Sister School Spero

gb29Assalamualaikum warahmatullah, readers! Bagaimana kabar kalian semua? Yuk ucapkan puji syukur pada Allah SWT yang karena sifat Maha Pemurah-Nya, kita masih diberi nafas dan kesehatan.

Pada tulisan kali ini, aku ingin sedikit berbagi tentang salah satu kenanganku di masa lalu. Sebuah trip pertamaku ke luar negeri, Singapore dan Malaysia dalam rangka sister-school. Beberapa hari sebelum terbesit niatku untuk menuliskan pengalamanku, aku menemukan pasporku tergeletak di meja belajar. Di paspor tersebut tertulis bahwa aku masuk ke wilayah Singapore pada tanggal 24 Oktober 2011. Dari Singapore menuju Malaysia pada tanggal 26 Oktober 2011 dan kembali ke Indonesia pada 28 Oktober 2011. Aku tidak begitu ingat detail kejadiannya, maka dari itu aku tidak akan menuliskannya sampai terperinci.

Pengalamanku ini terjadi ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas 7, masa-masa di mana aku masih sangat imut dan menggemaskan 😛 ! Saat itu sekolahku adalah salah satu dari puluhan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Indonesia, kalau sekarang sih mantan RSBI karena sudah tidak ada lagi sekolahan semacam itu. Jadi wajar-wajar saja kalau sekolah RSBI tempatku belajar mengadakan program sister-school ke luar negeri, sekolah saat itu memiliki banyak sekali dana.

Aku bersama teman sekelasku, Hilma, adalah siswa yang ikut program tersebut. Bersama teman-teman kelas 7 lain dan kakak-kakak kelas, kami berangkat bersama. Pertama, karena kami belum punya paspor, kami harus mengurusnya di Kantor Imigrasi Yogyakarta. Proses pembuatan paspor seingatku cukup lama, hehehe. Setelah semua paspor jadi, para guru yang mengampu peserta sister-school memberi himbauan kepada wali siswa tentang apa saja yang harus dipersiapkan.

Peserta sister-school harus menyiapkan seragam yang akan digunakan untuk mengunjungi sekolah-sekolah di Singapore dan Malaysia. Unik, kami disuruh membuat seragam dari kain batik. Sampai kelas 9 ini baju batik itu masih utuh dan masih muat. Kemudian kami diberi semacam itinerary oleh sekolah, itinerary ini merupakan jadwal kegiatan selama di luar negeri. Tergambar jelas diingatanku, Abiku sibuk menyiapkan uang Dollar Singapore dan Ringgit Malaysia, beruntungnya ia sudah berkali-kali keluar negeri dalam perihal pekerjaan sehingga tidak mengalami masalah. Ummiku sibuk mengurusi yang lain, seperti pakaian-pakaianku, ponselku (waktu itu aku belum punya ponsel), seragamku, koperku, alat-alat mandi, dan masih banyak lagi. Sebelum berangkat, aku banyak bertanya pada Abi soal Singapore dan Malaysia. Ia mengingatkanku bahwa aku akan tercengang-cengang melihat lingkungan di dua negara tersebut.

Hari keberangkatan pun tiba. Aku sudah di bandara bersama teman-teman dan kakak-kakak kelas yang lain, bersama guru-guru juga. Principle sekolahku juga ikut, lho. Itu juga merupakan kali pertama aku naik pesawat, jadi masih deg-degan banget. Aku bisa melihat bumi Indonesia dari ketinggian sekian kaki, dan kaget juga, ternyata bumi Indonesia gersang dan kawasan hijau masih sangat sedikit. Keprihatinan muncul tiba-tiba dan aku tidak bisa memalingkan wajahku dari jendela pesawat, mengingat aku duduk paling dekat dengan jendela.

Aku menembus awan, melihat lautan, kemudian melihat sebuah lapangan penuh warna hijau dan lintasan mendarat. Ya, aku sudah sampai di Changi Airport, bandara andalan milik Singapore. Benar kata Abi, beda banget suasananya. Walaupun berada dalam satu wilayah geografi, namun hawa di Singapore sangat sejuk, diperindah dengan teknologi-teknologi modern yang mereka kembangkan.

Kekagumanku tidak berhenti sampai di Changi Airport. Kami semua berpaling ke bus dan tour-guide kami adalah seorang wanita. Pertama kali bicara ia menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi guruku request untuk menggunakan Bahasa Inggris. Aku mulai terbiasa dengan Bahasa Inggris juga jadinya. Sebelum berangkat ke Singapore, aku sempat ‘curhat’ ke guru Bahasa Inggrisku, Mr. Bam, kalau aku takut tidak bisa bicara Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Tapi ternyata ketakutanku itu tidak pernah terjadi. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air.

Aku ingat kalau kami mengunjungi patung Singa yang terkenal itu. Aku terkagum lagi dengan Singapore, mengabadikan banyak foto di tempat itu. Namun aku tidak akan menguploadnya di blogku, karena saat sister-school dulu aku belum mengenakan hijab :-D. Aku melihat sekeliling, melihat perairan yang jernih dan bersih. Tidak ada sampah yang mengambang sedikitpun. Kalian tahu? Bahkan sepanjang jalan pun tidak ada yang namanya sampah berserakan. Bisa dibayangkan betapa bersihnya mereka!

Dari patung Singa, kami berpaling ke Universal Studio. Sepanjang jalan, aku duduk di dekat jendela bus dan mengamati banyak hal. Hal pertama yang kudapati adalah, semua jalan dipenuhi tanaman hijau yang rapih. Menyejukkan, hawa panas pun dikalahkan oleh semilir angin Singapore. Kedua, tidak ada kemacetan sama sekali walaupun banyak mobil berlalu-lalang. Ketiga, tidak ada yang namanya salip-salipan atau menerobos lampu merah, semuanya tertib. Keempat, semua mobil tampak masih baru, tidak kulihat satupun model mobil lawas yang berkeliaran di jalanan. Kelima, tidak ada seorang pengemispun di jalanan. Keenam, ternyata semua orang di jalan besar bertransportasi dengan mobil dan bus saja, hanya satu motor yang kulihat, itupun motor delivery pizza! Ketujuh, tidak ada sampah plastik, yang ada hanya sampah dari daun yang gugur. Kedelapan, tanaman-tanaman yang hijau itu ‘seimbang’ dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang ada di pusat kota.

Semua hal yang mencengangkanku selama di bus itu ternyata memiliki jawabannya. Warga Singapore sejak kecil diajarkan untuk disiplin dan mengerti peraturan. Mengerti dan tahu jelas merupakan hal yang berbeda lho, ya. Tidak ada salip menyalip, terobos lampu merah dan tiada macet, semua itu karena warga Singapore telah mengerti aturan lalu lintas yang berlaku di negaranya. Semua mobil tampak masih baru karena semakin tua umur kendaraan, semakin mahal pula pajaknya! Wajar aja kalau warga Singapore lebih memilih beli baru daripada bayar pajak yang bisa dua kali lipat harga kendaraan. Orang-orang di Singapore terbiasa dengan mobil, bus, dan kereta. Kita masih tetap dapat menemukan orang bermotor dan bersepeda di gang-gang kecil atau di jalan-jalan yang jarang di lewati mobil maupun kendaraan besar lainnya. By the way, mengapa di Singapore tidak ada sampah plastik berterbangan adalah, karena siapapun yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda (aku lupa dendanya berapa, tapi kudengar dendanya cukup besar). Selain itu, mereka juga mengerti dampak dari membuang sampah sembarangan, bukan karena hanya takut didenda saja :-)

Aku baru pertama kali ke Universal Studio, ternyata Universal Studio lebih membuat aku tercengang lagi :v ! Ada banyak makanan di sana, aku tidak ingat pernah makan apa tapi jujur saja, lidahku merasa tidak cocok dengan makanan-makanan di Singapore. Tapi karena lapar akhirnya aku makan juga, hehehe. Es krim yang ada di sana besar-besar, aku sangat suka es krim! Aku ingat pernah naik kereta yang jalannya sangat cepat di Universal Studio, aku lupa apa namanya. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kemudian melihat tiruan patung Singa raksasa. Ada juga kolam renang, tapi ternyata dalam kolam itu ada skeleton buatan dan diberi kesan horror. Aku baru menyadari sudah memasuki zona menyeramkan, hihihi.

Dari Universal Studio menuju hotel. Kami check in. Pergi seharian membuatku penat dan capek. Aku langsung masuk kamar, mandi, men-charge ponselku, dan pergi tidur. Eits, ternyata nggak jadi tidur. Seorang temanku dari kelas lain yang bernama Kirana mengetuk pintu kamarku dan mengajakku ke lantai paling atas. Ternyata, di lantai paling atas ada kolam renangnya. Wuah, langsung muncul sifat bawaanku, ndeso! Aku langsung nyebur tanpa aba-aba. Tidak begitu dingin. Aku dapat melihat suasana sekitar hotel dari ketinggian. Cukup sepi, dan aku senang dengan suasana seperti itu. Teman-temanku yang lain menyusul dan mereka juga berenang di kolam yang tidak begitu luas tersebut.

Langsung saja aku akan menceritakan kunjunganku ke St Francis Methodist School, sebuah sekolah yang pastinya wow karena masuk dalam agenda sister school. Tidak lupa pakai seragam batik :p .Sekolah itu begitu berkesan bagiku karena disana aku bertemu dengan seorang guru yang menjadi pendampingku selama berkeliling sekolah, namanya Medeline. Medeline cantik, kulitnya putih dan rambutnya sebahu dengan poni yang menutupi jidatnya. Kami mengobrol sepanjang perjalanan, seolah-olah yang lain di cuekin :v

 

Author                  : Medeline, that’s your name, right? (Medeline, itu namamu, kan?)

Medeline            : Yes, dear. Tell me what’s your name. (Ya, sayang. Katakan siapa namamu.)

Author                  : My name’s Kamila. I was watching you in every time you speak in English. You’re so good! (Namaku Kamila. Aku mengamatimu setiap kali kamu bicara dalam Bahasa Inggris. Sangat bagus!)

Medeline            : Oh, thank you! But don’t be so impressed. That’s because I usually speak in English, Kamila. (Oh, terima kasih! Tapi jangan terlalu terkesan. Itu karena aku terbiasa bicara Bahasa Inggris, Kamila.)

Author                  : This is the first time I visit Singapore. Actually I’m a bit afraid because I ever imagine I cannot speak in English well. But my English teacher has calm me down. Then, now, I speak to you in English. What do you think about my English? (Ini pertama kalinya aku mengunjungi Singapore. Sebenarnya aku sedikit takut karena aku pernah membayangkan kalau-kalau aku tidak bisa bicara berbahasa Inggris dengan baik. Tapi guru Bahasa Inggrisku sudah menenangkanku. Kemudian sekarang, aku bicara denganmu dalam Bahasa Inggris. Bagaimana pendapatmu tentang Bahasa Inggrisku?)

Medeline            : I like your pronounciation. You pronounce just like native. How could you? (Aku suka pelafalanmu. Kamu melafalkan persis seperti orang Inggris asli. Kok bisa?) (ini kata-kata Medeline yang bikin aku nyess banget, alhamdulillah deh :v)

Author                  : My father works in foreign country and usually talks to foreigner and sometimes he teaches me to speak so. (Abiku kerja di luar negeri dan biasa bicara dengan orang asing. Kadang dia mengajariku untuk bicara seperti itu.)

Medeline            : Waah… you’re so lucky, dear. So this is the first time you visit Singapore, what do you think about my country? (Waah, kamu beruntung, sayang. Jadi, ini kali pertama kamu berkunjung ke Singapore,  apa pendapatmu tentang negaraku?)

Author                  : I’ve just really shocked when I’m arrived at Changi Airport because it is very green, clean, and the weather wasn’t so hot. Then when I sat inside the bus, watching the road along the trip through the window, I found many things. Singapore is a green country. No rubbish everywhere. The building is also interesting, I like all of them. I just really feel like, I want to stay here and study here too. (Aku sangat kaget ketika sampai di Bandara Changi karena disana sangat hijau, bersih, dan cuacanya tidak begitu panas. Kemudian ketika aku duduk di dalam bus, mengamati jalan sepanjang perjalanan lewat jendela, aku menemukan banyak hal. Singapore adalah negara hijau, tidak ada sampah dimana-mana. Bangunannya juga menarik, aku suka semuanya. Aku hanya merasa seperti, aku ingin tinggal disini dan menimba ilmu disini juga.)

Medeline            : You have learn many things since you’re here, dear, well done. Then, how about the food? (Kamu sudah belajar banyak hal sejak kamu disini, selamat. Trus, gimana dengan makanan di sini?)

Author                  : Eh… um, actually I not really like the food because when I taste them, they were freaky. (Eh… um, sebenarnya aku tidak begitu suka makanannya karena ketika aku mencicipinya, mereka terasa freaky.) (Aku nggak tahu bahasa Inggrisnya aneh, yang ternyata adalah Freak!)

Medeline            : Freaky? What’s freaky? (Freaky? Freaky apa?)

Author                  : I er… they just don’t match in my tounge. (Mereka hanya gak cocok di lidahku.) (Benar-benar bahasa Indonesia yang di translate secara harfiah –“)

 

Aku sempat memasuki laboraterium biologi di Saint Francis Methodist School, juga masuk ke perpustakaannya. Perpustakaan di sekolah itu benar-benar lengkap, semua refrensi keilmuan yang dibutuhkan para siswa dapat ditemukan di sana. Tidak semata-mata buku, bahkan globe besar dan tiruan teleksop pun tersedia. Ada juga stan khusus yang menjual seragam Saint Francis Methodist school dan buku-buku baru maupun bekas. Aku waktu itu belikan satu komik berbahasa Jepang untuk temanku, Ichi (nama samaran) dan harganya hanya 5 sen saja!

Oh ya, di Saint Fancis Methodist School juga terdapat berbagai lapangan olah raga. Ada lapangan voli, basket, tennis, sepak bola, dan lain sebagainya. Pendidikan di Singapore juga jelas beda jauh dengan pendidikan di Indonesia, kalau ini kalian bisa baca sendiri deh di internet dan lihat sendiri peringkatnya di dunia 😀

Aku tidak ingat pasti dari St Francis Methodist School pergi kemana lagi. Tapi yang jelas, aku mengunjungi banyak pusat perbelanjaan dan toko-toko souvenir. Aku juga berkunjung ke Takashimaya, lho! Tapi tidak belanja, hanya nemeni teman belanja 😛 ! Aku beli oleh-oleh di toko-toko souvenir yang ada di bawah tanah. Bawah tanah? Ya! Ruang bawah tanah juga tidak kalah ramai dengan di atas. Dan di bawah tanah inilah kita bisa menemukan pengamen dan pengemis. Pengamen dan pengemisnya juga tidak banyak, saat itu aku hanya menemui dua pengemis saja.

Dari Singapore, kami pindah ke Malaysia. Sayangnya ingatanku sudah sangat pudar tentang apa saja yang kami lakukan di negara ini. Seingatku, kami berkunjung ke Menara Petronas. Setelah itu… ingatanku pudar sama sekali, hehehe. Kami beli souvenir, dan kemudian pulang. Apapun yang terjadi pada sister school itu sangat mudah untuk di nikmati, namun begitu sulit untuk di lupakan 😀

Nah, setelah membaca cerita ini, readers pasti bertanya-tanya dimana letak penderitaan semua peserta sister school. Judulnya agak tidak nyambung dengan isi cerita. Tapi sebenarnya, penderitaan itu terletak pada readers yang capek membaca betapa panjang tulisan ini, hehehe 😛 yaa kira-kira begitulah hal-hal yang aku ingat selama di Singapore. Aku harap kalian dapat mengambil manfaat dan semoga bisa jadi inspirasi terutama untuk generasi-generasi berikutnya :-)

 

author : Kamila Jasmine / Angkatan 2013/2014

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2016 SMP N 2 Purworejo. All rights reserved. Powered by Intermedia Group